Untuk A
Awalnya kelopak Mawar itu berwarna putih. Wangi Mawar selalu menyelimuti. Waktu terus membawanya berlari hingga kelopak putih itu mengering dan berubah warna. Waktu memang terus pergi berlari, tapi waktu selalu meninggalkan penanda. Hari dimana kamu memberi Mawar putih itu menjadi penanda yang ditinggalkan jejak waktu. Duapuluh lima Oktober, tahun duaribu sepuluh. Hari ulang tahunku yang ke duapuluh satu.
Aku menyipman Mawar di buku harianku. Dulu aku punya sebuah buku kosong yang dengan cepat terisi oleh segala macam coret-coret. Di buku itu banyak sekali cerita dan tumpahan perasaan yang berserakan. Itu adalah masa dimana aku belajar membesarkan hati menjadi sebuah tempat yang cukup lapang menerima hidup. Sebuah masa dimana aku mencari apa yang sebenarnya aku cari. Merasa belum siap dengan hidup orang dewasa yang menjalani berbagai peran secara bersamaan. Masa-masa paling tidak stabil. Dan kamu, sudah ada saat itu…
Pada waktu yang lain, pada sebuah makan malam, kamu memberiku bunga Edelweiss. Kamu bilang itu Edelweiss yang tumbuh di Gunung Lawu. Kamu mengambil Edelweiss yang sudah jatuh di tanah, kamu tidak memetiknya.
Edelweiss bunga yang manis. Tangkainya pun halus, tidak berduri. Seolah Edelweiss tidak didesain untuk menyakiti siapapun yang menyentuhnya. Mungkin Tuhan sedang menunjukkan sisi lembut hatiNya ketika menciptakan Edelweiss. Tapi Edelweiss menuntut perjuangan besar untuk sekadar bisa melihatnya. Aku sendiri belum pernah melihat Edelweiss secara langsung. Ada gunung yang harus ditaklukan, ada jalan terjal yang harus dilalui. Aku yakin kamu menempuh perjalanan yang melelahkan ketika bertemu dengan Edelweiss yang tergeletak di tanah, Edelweiss yang sekarang ada di tanganku…
Waktu juga mengajak Edelweiss itu berlari. Tapi edelseiss tidak pernah berubah. Bentuk dan warnanya masih sama. Mungkin itulah yang menjadikan Edelweiss sebagai simbol sesuatu yang abadi...
Banyak tahun yang sudah berganti sejak kita tidak mengenakan seragam putih biru. Banyak angka-angka dalam kalender yang sudah dilewati sejak Mawar dan Edelweiss itu ada bersamaku. Setelah tahun-tahun yang rumit, aku sangat bersyukur akhirnya kita bersama-sama lagi. Sungguh, aku tidak mau berpisah lagi dari kamu. Aku mencintaimu dan memilikimu…
Ada sebuah kutipan yang sudah familiar di telinga kita. Kamu pernah mengutipnya untukku, aku pun pernah mengutip untukmu. Aku sering mengucapkannya berulang-ulang seperti sebuah zikir. Karena aku selalu berharap itu terjadi pada kamu : semoga kamu baik-baik di sana, tidak demam dan dicintai orang lain…
Ini ruang yang tidak berbatas. Di sini katakata bertemu pada ruang yang sama, pada waktu yang juga sama...
Minggu, 07 April 2013
Sabtu, 01 September 2012
Pengetahuan-Sesat-dan-Masih-Diterapkan (Bagian 1)
Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis yang semacam
tulisan ini. Karena bagaimanapun juga, penulis di blog ini adalah mahasiswa
kedokteran, bukan mahasiswa Fisipol atau mahasiswa sastra. Minat saya memang
terlalu random. Hihi…
Sudah lama saya ingin menulis tentang penyakit, fisiologi
tubuh manusia dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kesehatan, bukan cuma
soal kebijakan pembangunan kesehatan (saya paling banyak menulis soal ini).
Tapi saya tidak ingin tulisan yang hanya memindahkan isi text book kedokteran, yang hanya bisa dimengerti orang-orang yang
berkecimpung di dunia kesehatan. Saya ingin tulisan yang siapapun dapat
memahaminya. Kurang lebih seperti tulisan-tulisan dokter Oz, dokter yang kerap
tampil di acara Oprah Winfrey Show.
Tapi masalah utamanya adalah waktu. Kesibukan sebagai “dek
koas” di rumah sakit sering tidak berpihak pada aktivitas menulis.
Oke, tadi hanya intermezzo tidak penting. Tulisan ini
semacam fenomena pengetahuan-sesat-dan-masih-diterapkan. Cukup banyak saya
menemui hal-hal semacam ini. Dan saya akan mencoba sedikit meluruskan yang
melenceng . tulisan ini merupakan bagian pertama. Harapannya, kelak saya tetap
bisa konsisten menulis tentang hal lain.
- Menghentikan Perdarahan dengan Cara yang Benar
Ini berawal dari ketika saya jaga IGD pada hari Minggu yang
tidak libur. Ada pasien datang, laki-laki, umur sekitar 20an, ia datang dengan
keluhan luka sayat (Vulnus Scissum/VS) di jari-jari kaki. VS itu disebabkan
oleh cutter yang ia pakai ketika
bekerja. Panjang VSnya sekitar 3-5cm, dalam sekitar 0.3cm. VS tersebut perlu
dijahit supaya penyembuhannya lebih cepat dan lebih baik.
Saya terkejut ketika pasien tersebut bercerita dia
menyiramkan tiner untuk mengehentikan perdarahan yang keluar dari VS. Apa yang
dilakukan benar-benar tidak tepat. Justru tiner itu bisa menyebabkan lukanya
terkontaminasi oleh zat-zat kimia yang terkandung dalam tiner. Dan saya yakin
pasti perih sekali ketika luka itu terkena tiner. Inilah hal pertama yang akan
saya bahas dalam fenomena pengetahuan-sesat-dan-masih-diterapkan , tentang pertolongan
pertama pada luka, sebelum di bawa ke rumah sakit.
Jika bicara tentang luka, hal pertama yang penting untuk
diperhatikan adalah menilai luka tersebut. Umumnya luka dinilai dari dua hal ;
dimensi (panjang, lebar dan kedalamannya) dan apakah termasuk luka bersih atau
kotor.
Kita bicarakan cara pertolongan pertama menghentikan
perdarahan yang tidak menggunakan obat-obatan. Caranya sederhana saja. Tekan
daerah yang luka dengan kassa (jangan gunakan kapas atau tissue karena keduanya
mudah menempel di luka dan sulit dibersihkan). Jika lukanya lebar, tekan daerah
yang luka dengan kain bersih.
Tekanan tersebut akan membuat pembuluh darah ikut tertekan.
Bayangkan saja pembuluh darah di tubuh manusia itu serupa selang air. Ketika selang
itu ditekan, air tidak akan bisa mengalir keluar lewat selang, bukan? Tekanan
pada pembuluh darah itu juga mengaktivasi agen-agen pembekuan darah untuk
menyumpal lokasi yang berdarah.
Pada luka yang berdimensi kecil, cara tersebut bisa
cepat menghentikan darah yang keluar. Tapi cara ini memang tidak langsung
membuat perdarahan berhenti pada luka yang dimensinya lebih besar. Luka
berdimensi besar perlu mendapat pertolongan lebih lanjut di puskesmas atau
rumah sakit. Tapi setidaknya, dengan cara tadi darah yang hilang bisa diminimalisir.
Tentunya diminimalisir dengan cara yang tidak mengkontaminasi luka.
- Teh Pahit dan Diare
Hal kedua dari fenomena pengetahuan-sesat-dan-masih-diterapkan
adalah teh pahit dan diare. Sepertinya sudah bukan hal yang asing ketika Anda
diare dan ada orang yang menyarankan untuk minum teh pahit. Teh pahit dianggap
bisa menghentikan diare.
Sebenarnya soal teh pahit itu tidak seratus persen salah, hanya kurang tepat. Teh pahit tidak menghentikan diare.
Diare adalah buang air besar dengan tinja cair sebanyak tiga
kali atau lebih dalam sehari. Diare bisa menimbulkan kegawatan ketika terjadi
kekurangan cairan (dehidrasi) dan ketidakseimbangan elektrolit. Cairan dan
elektrolit ikut terbuang bersama tinja cair tersebut.
Apa sih elektrolit itu? Elektrolit adalah ion positif dan
negatif dalam cairan tubuh. Keseimbangan elektrolit perlu dijaga supaya sel-sel
dan organ-organ tubuh dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Penggantian cairan (rehidrasi) dan penggantian elektrolit amat
penting dalam penanganan diare. Jika
penderita diare masih bisa minum (tidak muntah ketika minum), maka ia harus
minum sampai kehilangan cairannya teratasi. Karena elektrolit juga hilang
akibat diare, minuman yang diminum juga harus yang mengandung elektrolit.
Teh pahit sudah tentu tidak mengandung elektrolit, karena
pada dasarnya kandungan teh pahit tidak jauh berbeda dengan air putih biasa. Jadi
ia hanya merehidrasi tapi tidak menggantikan elektrolit yang hilang. Lebih baik
minum minuman yang mengandung elektrolit seperti teh manis, oralit dan
sebagainya.
Teh manis merupakan minuman yang dapat merehidrasi sekaligus
mengganti kehilangan elektrolit. Gula yang larut dalam teh membuat teh tersebut
jadi mempunyai kandungan elektrolit, karena gula pasir yang larut dalam teh mengandung
elektrolit.
Oralit juga minuman yang dapat merehidrasi sekaligus
mengganti kehilangan elektrolit. Oralit dapat dibuat sendiri di rumah.
Pembuatannya pun cukup sederhana. Campurkan satu sendok teh garam dan delapan
sendok teh gula dalam satu liter air. Satu liter air kurang lebih setara dengan
lima gelas ukuran biasa.
Sekian. Semoga bisa dipahami dan semoga bermanfaat :)
Kamis, 09 Agustus 2012
Mufsidûn
Mufsidûn
Mufsidûn ialah kata dalam bahasa Arab. Kata
itu dapat dimaknai sebagai koruptor-koruptor kekuasaan. Memanfaatkan kekuasaan
untuk melakukan korupsi bukan pemandangan baru lagi bagi bangsa ini. Berita
tentang pejabat-pejabat yang terjerat kasus korupsi marak menghiasi media massa.
Lebih ironis lagi, hukum di negara ini benar-benar serupa panggung sandiwara. Mufsidûn tidak menerima hukuman yang
semestinya. Banyak koruptor yang cepat bebas dari penjara karena ringannya
vonis yang diberikan. Apalagi, tidak jarang mereka mendapat remisi.
Tak perlu dipungkiri lagi bahwa
Islam menentang segala bentuk ketidakjujuran, termasuk korupsi. Kisah tentang
Khalifah Umar yang mematikan lampu minyak ketika berbincang dengan anaknya
adalah contoh nyata pemimpin yang menjaga diri dari tindakan korupsi. Umar
sengaja mematikan lampu minyak di ruang kerjanya karena minyak dalam lampu
dibeli dengan uang rakyat, sementara urusan dengan putranya bukanlah urusan
negara. Walaupun Umar punya kuasa untuk menggunakan fasilitas-fasilitas sebagai
khalifah, Umar tak ingin menyalahgunakan kekuasaannya. Umar tidak mau korupsi,
sekalipun hanya korupsi kecil macam minyak di dalam lampu.
Ada teladan lain yang “lebih
dekat” tentang bagaimana seharusnya pemimpin bersikap. Contoh teladan itu
bernama Polisi Hoegeng. Hoegeng pernah menjabat sebagai Panglima Angkatan
Kepolisian RI (kini Kapolri) pada 1968-1971. Ketika Hoegeng baru saja pindah ke
rumah dinasnya yang baru, Hoegeng sudah mendapatkan kiriman barang-barang mewah
dari para cukong. Cukong-cukong itu hendak menyuap Hoegeng. Namun, dengan tegas
Hoegeng menolak semuanya. Sama seperti Umar, Hoegeng tidak menyalahgunakan
kekuasaannya.
Sikap Hoegeng itu amat istimewa
di mata mendiang Gus Dur. Sampai-sampai Gus Dur pernah berseloroh soal tiga
polisi jujur. Kata Gus Dur, hanya ada tiga polisi jujur, yaitu polisi tidur,
patung polisi, dan Polisi Hoegeng.
Cerita tentang Khalifah Umar dan
Polisi Hoegeng memang “hanya” sebuah kisah. Namun, kisah itu sejalan dengan
hadis Rasulullah yang berbunyi, “setiap
kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanyai tentang yang
dipimpinnya.” Umar dan Hoegeng adalah realitas yang perlu dimaknai lebih
mendalam.
Orang Islam harus melihat
realitas melalui Islam. Begitu bunyi pernyataan Kuntowijoyo, Guru Besar Ilmu
Sejarah Universitas Gajah Mada cum
intelektual muslim. Dalam buku Islam
Sebagai Ilmu, Kuntowijoyo memaparkan tentang perlunya pengilmuan Islam. Pengilmuan
Islam akan membuat orang Islam melihat realitas melalui Islam.
Orang Islam harus melihat
realitas melalui Islam karena -menurut ilmu budaya dan sosiologi pengetahuan- realitas itu tidak dapat dilihat
secara langsung oleh manusia. Tetapi realitas dilihat melalui tabir (kata,
konsep, simbol, budaya, persetujuan masyarakat). Orang melihat realitas tidak
seperti anjing melihat tulang; animal’s
faith tidak pernah terjadi pada manusia. Misalnya di daerah Kejawen (dulu),
orang melihat raja melalui simbol-simbol: mitos Nyi Roro Kidul, upacara
labuhan, sastra Babad Tanah Jawi (raja adalah keturunan para nabi dan para
dewa), tata cara sembah, warna paying, dan sebagainya.
Karena manusia tak dapat
melihat realitas secara langsung, pengilmuan Islam menjadi amat diperlukan.
Dalam pengilmuan Islam, Islam sebagai teks (Al-Quran dan As-Sunnah) dihadapkan
kepada realitas (baik realitas sehari-hari maupun realitas ilmiah). Dari teks
ke konteks.
Hadis Rasulullah (teks) di atas
sangat tepat dihadapkan pada realitas Umar dan Hoegeng (konteks). Ajaran Islam
adalah nilai-nilai yang bersifat universal. Umar dan Hoegeng telah berhasil
menentukan sikap berdasarkan salah satu nila universal dalam Islam.
Namun, nilai universal Islam
tersebut belum menyentuh bangsa ini. Sebaliknya, korupsi merajalela
dimana-mana. Apalagi sejak hubungan sentralistik pusat-daerah coba diredam
lewat penerapan Otonomi Daerah.
Otonomi Daerah lahir pasca
tumbangnya Soeharto, sang penguasa Orde Baru (Orba). Pemerintah Orba yang sarat
dominasi militer, dengan otoritarianismenya, telah menciptakan sentralisasi
kekuasaan. Pemerintah pusat adalah segala-galanya. Wewenang pemerintah daerah
amat terbatas untuk menentukan kebijakannya sendiri, untuk menetapkan kebijakan
yang ia anggap paling baik bagi daerahnya. Setelah Orba runtuh, sentralisasi
kekuasaan tersebut coba direduksi dengan kebijakan Otonomi Daerah.
Sayang, lahirnya Otonomi Daerah
ikut melahrikan banyak Mufsidûn. Jika
beberapa tahun lalu korupsi hampir seluruhnya terjadi di pusat, pasca Otonomi, korupsi ikut tumbuh subur di daerah.
Apa lacur? Ternyata biaya tinggi pemilihan kepala daerah merupakan penyebab
maraknya korupsi di daerah. Ketika mengikuti pemilihan kepala daerah, banyak
calon disokong pengusaha yang ingin mendapat akses kemudahan bisnis. Uang dari
pengusaha itu dipakai untuk beli “tiket” partai pengusungnya. Mesin politik
partai efektif mengerahkan massa yang mesti dibayar sang kandidat.
Majalah Tempo edisi 7-13 Februari 2011 memuat
berita seputar korupsi di daerah. Rubrik Politik majalah itu memberitakan
korupsi yang dilakukan para kepala daerah di Indonesia sejak 2004. Merujuk dari
Tempo, Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat 147 kepala daerah
tersangkut kasus korupsi. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi
menyatakan 158 kepala daerah terjerat perkara hukum. Angka yang dikatakan Fauzi
ini hampir seperempat dari jumlah kepala daerah di Indonesia, yakni 33 gubernur
dan 540 kabupaten dan kota.
Sudah pasti,
banyaknya Mufsidûn berbanding
terbalik dengan kesejahteraan rakyat. Penguasa yang memanfaatkan kuasanya untuk
korupsi menjadi penyebab kesengsaraan rakyat. Tidak ada petani yang sejahtera
ketika subsidi pengadaan benih dikorupsi. Gedung sekolah yang bobrok tidak
mungkin diperbaiki ketika dana perbaikannya masuk ke kantong para koruptor.
Kualitas pendidikan makin terpuruk sebab dana pengadaan buku dikorupsi oleh
bupati. Pengusaha kecil sulit maju ketika bantuan modal yang sampai ke tangan
mereka telah disunat. Buruh menderita Pneumonia sampai mati akibat tidak mampu
berobat, karena jaminan kesehatan yang menjadi haknya tak kunjung ia dapatkan.
Kalau sudah
begini, kesejahteraan menjadi sesuatu yang utopis. Selalu, selalu dan selalu
rakyat yang jadi korban. Mufsidûn dan
korupsinya ialah potret buram dari bahaya politik Otonomi Daerah!
* Pertama kali dimuat dalam editorial majalah mahasiswa HIMMAH Edisi No. 1/Thn. XLV/2012
Minggu, 24 Juni 2012
Enam Tahun Melawan dalam Cemas
Enam
Tahun Melawan dalam Cemas
(Prolog : ini semacam penelitian kualitatif yang sangat kecil-kecilan tentang kecemasan warga pesisir Kulon Progo terhadap rencana penambangan pasir besi. Tulisan ini merupakan salah satu tugas untuk Stase Ilmu Kesehatan Masyarakat, kami dibebaskan mengambil tema papun yang berhubungan dengan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Saya punya alasan yang sangat subyektif ketika memilih tema tentang kecemasan masyarakat pesisir Kulon Progo, saya ingin isu tambang besi Kulon Progo ini mendapat perhatin dari banyak pihak. Alasan pertama, saya berasal dari keluarga keluarga petani, ini semacam "solidaritas". Semenjak papa pensiun dari pekerjaannya, hasil pertanian menjadi salah satu yang kami andalkan sebagai pendapatan keluarga. Anggaplah saya bisa mengerti betapa berartinya tanah bagi petani. Alasan kedua, saya ingin tahu bagaimana kondisi kejiwaan orang-orang yang hidup di wilayah yang potensi konfliknya begitu besar seperti pesisir Kulon Progo saat ini. Saya akui ini bukan hasil penelitian cum tulisan yang baik, analisa dan pembahasannya masih sangat dangkal. Hanya satu minggu waktu yang diberikan untuk mengerjakan penelitian ini, mulai dari perizinan sampai penulisan laporan. Itu memang apologi saya, tapi saya tetap mengakui ini bukan tulisan yang baik dan tidak meminta pemakluman. Sebab penulis yang baik pasti bisa menhghasilkan tulisan yang baik, bagaimanapun kondisinya. Dan saya belum tergolong penulis yang baik. Dalam publikasi di blog ini, semua nama narasumber saya samarkan. Saya berkata tulisan ini untuk keperluan tugas dari kampus ketika menemui para narasumebr, saya tidak mengatakan untuk dipublikasikan. Sekalipun ini cuma publikasi di blog pribadi, dengan alsan etika, saya menyamarkan semua nama narasumber.)
Proses
perizinan penambangan pasir besi di Kulon Progo terus berlangsung. Warga yang
menolak pun tetap melawan. Dalam perlawanan mereka merasakan kecemasan. Dan
semua itu sudah berlangsung selama enam tahun...
Sudah sekitar enam
tahun Kulon Progo bergejolak akibat rencana penambangan pasir besi. Kulon Progo
ialah satu dari empat kabupaten di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 58.627,5
Ha. Kulon Progo memiliki sebelas kecamatan dengan beragam potensi, mulai dari
pariwisata, pertanian peternakan, hingga perikanan. Beberapa tahun lalu,
ditemukan potensi pertambangan karena kandungan pasir besi di pesisir Kulon
Progo. Rencana penambangan pasir besi inilah yang memicu pergolakan, sebab
warga pesisir menolak rencana penambangan itu.
Februari 2006, Australia Kimberly Diamond (AKD)
dan Jogja Magasa Mining (JMM) melakukan eksplorasi pasir besi di seribu
lokasi. Pada 2008, seiring setelah AKD
merubah namanya menjadi Indo Mines Ltd pada 2006, dan bikin perusahaan patungan
bersama JMM dengan nama Jogja Mgasa Iron (JMI), Kontrak Karya antara JMI dan
Pemerintah Indonesia diteken. Jogja Magasa Mining adalah perusahaan lokal yang
menjadikan GKR Pembayun, putri tertua Sultan Hamengku Buwono (HB) X, sebagai
salah satu pemegang sahamnya.
Penambangan akan
dilakukan di lahan pesisir seluas 22 km x 1,8 km. Lahan seluas itu merupakan
wilayah tambang PT. JMI. Penambangan akan dilakukan di tanah pesisir yang
terdiri dari : tanah warga, Tanah Pakualaman (Tanah PA), tanah merah (tanah
yang digunakan untuk bertani tetapi tidak jelas kepemilikannya) dan wedi kengser (tanah yang dulunya laut).
Sengketa tanah amat
rentan terjadi pada proyek penambangan ini. Warga menolak tanahnya ditambang
oleh PT. JMI. Belum lagi status kepemilikan tanah merah yang rancu. Tanah merah
dinyatakan sebagai tanah negara oleh petani, tapi juga diklaim sebagai Tanah
Magersari oleh Pakualaman. Tanah Magersari adalah tanah yang tak berlandaskan
sertifikat, melainkan surat kekancingan dari pihak kraton yang menunjukkan
bahwa tanah warga tersebut adalah Tanah Sultan atau Tanah Pakualaman. Tanah
merah kenyataannya memang tak bersertifikat, tapi lahan yang tak diurus negara
itu juga tak bersurat kekancingan.
Masyarakat pesisir dengan
tegas menolak rencana penambangan. Masyarakat pesisir Kulon Progo mayoritas
bermatapencaharian sebagai petani. Penambangan itu bisa menggusur tempat
tinggal mereka, juga menggusur lahan pantai yang selama ini mereka tanami.
Mereka pun mendirikan Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) sebagai wadah
penolakan mereka terhadap rencana
penambangan.
1 April 2006, PPLP
resmi berdiri. Sudah enam tahun ini mereka terus melawan. Mereka konsisten menolak
rencana penambangan. Perlawanan mereka menimbulkan konflik vertikal maupun
horizontal. Konflik vertikal berarti mereka berhadapan dengan perusahaan
tambang, pemilik modal asing, kraton dan negara. Konflik horizontal terjadi
antar warga yang menolak penambangan dengan warga yang pro penambangan.
Ditengah-tengah
sengketa lahan dan potensi konflik yang luar biasa, PPLP juga pernah mengalami
teror, intimidasi, kekerasan, hingga kriminalisasi. Kecemasan pun dirasakan
warga peisisir, khususnya pengurus PPLP. Selain kecemasan akan kehilangan
lahan, pengurus PPLP punya tanggung jawab mengatur massa PPLP yang berjumlah
puluhan ribu. Itu menjadi “kecemasan tambahan” bagi mereka.
***
Siang itu (Senin, 2
April 2012) saya berdiskusi dengan K dan F, mereka berdua pegiat di
Solidaritas Tolak Tambang Besi (STTB). Kami mengobrol di teras rumah kontrakan
milik George Yunus Aditjondro, ilmuwan sosial yang sempat menggegerkan dengan
bukunya, Membongkar Gurita Cikeas.
George mengontrak sebuah rumah di daerah Mrican, dekat Kampus II Universitas
Sanata Dharma. George tidak tinggal di sini. Rumah itu hanya digunakan untuk
menyimpan buku-buku milik George yang jumlahnya luar biasa banyak. Para pegiat
STTB sering memanfaatkan rumah ini sebagai tempat berkumpul.
STTB kerap
mendampingi petani-petani Kulon Progo terkait permasalahan tambang pasir besi. K
mengatakan, rencana penambangan itu membuat warga menjadi amat waspada kepada
orang luar, tidak terkecuali peneliti yang hendak bikin penelitian di sana.
Warga takut penelitian atau apapun yang dilakukan orang luar akan digunakan
untuk memuluskan rencana penambangan. Kekhawatiran warga amat beralasan.
Penambangan itu bisa menggusur tanah yang menjadi sumber penghidupan mereka
selama ini.
“Coba kamu masuk ke
sana lewat Pak Kr saja. Beliau orangnya terbuka,” kata K. Pak Kr
adalah salah satu pengurus PPLP yang tinggal di Desa Bugel. Pak Kr juga
pernah membantu K ketika dia melakukan riset di Kulon Progo untuk
kepentingan tesisnya.
F memberikan
nomor telepon genggam Pak Kr kepada saya. Saat itu juga saya menghubungi
Pak Kr. “Bilang kalau kamu temannya K,” kata K menyarankan. Strategi
itu berhasil. Pak Kr bersedia menemui saya.
Ketika sore
menjelang, kami terpaksa menyudahi diskusi tentang penambangan pasir. K dan
F harus menjemput teman mereka -sesama pegiat STTB- di terminal. Saya pun
berpamitan pada mereka berdua. Sebelum pergi, K mengingatkan saya untuk
berhati-hati. Jangan masuk lewat “pintu” yang salah.
Saya bersyukur cuaca
hari Selasa 3 April 2012 amat bersahabat. Langit cerah, tidak ada awan mendung
yang bergantung. Cerahnya hari membuat saya merasa nyaman menempuh perjalanan menuju
pesisir Kulon Progo. Dari tempat tinggal saya di Jalan Kaliurang Km 14,5,
perjalanan itu memakan waktu satu jam lebih. F bersedia menemani saya ke
Kulon Progo.
Sempat mengalami
insiden ban motor yang bocor, sekitar jam 14.00 WIB saya sampai di rumah Pak
Kr. Pak Kr sudah menunggu kedatangan saya. Kami berbincang di teras
rumahnya, duduk di kursi bambu.
Pak Kr lelaki
paruh baya berwajah ramah. Rambutnya sudah memutih di beberapa tempat. Saat itu
ia mengenakan kemeja batik. Pak Kr mulai bercerita tentang latar belakang
masyarakat pesisir. Ia mengatakan, dulu masyarakat pesisir sangat miskin. Lahan
pesisir yang merupakan lahan kritis tidak mendatangkan banyak kemakmuran. Lahan
kritis hanya bisa ditanami tanaman seperti kentang dan ketela muntul (ubi jalar). Kondisi lahan yang
tidak subur membuat masyarakat pesisir banyak yang merantau ke luar daerah. Di
sana mereka jadi buruh. Ada juga yang menjadi buruh migran (TKI) ke luar
negeri.
Namun, segalanya
berubah pada tahun 1985. Ketika itu ada kemajuan teknologi untuk menggarap
lahan kritis. Ada penemuan untuk mengatasi itu, yaitu dengan membuat pola penyiraman.
Di lahan, sumur-sumur pun mulai dibuat. “Mulanya hanya sumur yang pakai bambu.
Tapi itu berkembang terus,” kata Pak Kr.
Sekarang ini pola
penyiraman sudah makin berkembang sejak petani mulai menggunakan pompa air.
Tanaman di lahan kritis perlu disirami dua kali sehari karena kondisi tanah
yang permeabilitasnya tinggi. Permeabilitas tinggi itu membuat air jadi cepat
diserap tanpa mengendap.
Sejak penemuan
teknologi itu, petani lahan pantai Kulon Progo mulai merasakan kemakmuran.
Lahan pantai bisa ditanami berbagai jenis tanaman. Mulai dari cabai, melon,
semangka, terong, tomat, dan lain-lain. Warga pun tidak lagi menjadi buruh di luar
daerah. Mereka pulang kampung dan menggarap lahan pantai. Lahan pantai sudah
mampu memenuhi kebutuhan hidup.
“Nah itu. Tetapi
tiba-tiba setelah kita merasakan kenikmatan hidup dari hasil pertanian,
tiba-tiba pemerintah mau menggusur, mau menambang lahan yg kami kelola.”
Saya dapat melihat
dengan jelas kemakmuran yang dikatakan Pak Kr. Sepanjang perjalanan ke Desa
Bugel, saya melihat rumah-rumah yang sudah permanen, walaupun masih ada
sebagian kecil yang berdinding bata. Jumlah rumah yang berdinding anyaman bambu
dapat dihitung dengan jari. Ini pemandangan yang kontras dengan desa tempat
saya menjalani pendidikan klinik stase Ilmu Kesehatan Masyarakat di Desa Jono,
Kecamatan Tanon, Sragen. Di Jono banyak rumah yang masih berdinding anyaman
bambu atau kayu. Lantainya juga masih tanah. Padahal Desa Jono dan Desa Bugel
sama-sama desa agraris. Saya berani mengatakan warga Bugel jauh lebih makmur daripada
Jono.
Kendaraan roda dua
pun menjadi alat transportasi yang lumrah dimiliki masyarakat pesisir.
Sepanjang perjalanan, saya banyak menjumpai petani pergi ke lahan dengan sepeda
motor. Pak Kr sendiri memiliki lebih dari satu sepeda motor.
Pertanian tidak hanya
mendatangkan kemakmuran. Penyakit mata yang dulu sering menyerang warga pun
lenyap. Apa pasal? Ternyata di sini penyakit mata amat berkaitan dengan lahan
yang terbuka, banyak debu yang terhembus angin. Terutama ketika musim kemarau
datang, angin bertiup sangat kencang. Setelah lahan bisa ditanami, debu-debu
pun tidak banyak lagi yang berterbangan.
“Dulu kalau setiap
musim kemarau pasti ada penyakit mata. Tapi sekarang ini sudah nggak muncul lagi penyakit mata. Ya
kadang-kadang ada yang kena belekan
itu, tapi kan tidak semuanya kena, mungkin cuma satu-dua,“ ujar Pak Kr, “Lha… dulu hampir semuanya kena penyakit
mata. Luar biasa penyakit mata itu. Sampai kalau pagi itu mau membuka kelopak
mata saja sulit. Blobok itu keluar,
sampai lengket dan mengunci kelopak mata. Itu saya mengalami waktu masih kecil.
Dan itu dirasakan oleh hampir semua orang.”
Pak kr
mengatakan, warga di sini juga cemas potensi kerusakan lingkungan yang akan
terjadi akibat penambangan. Mereka juga khawatir gumuk-gumuk (bukit-bukit) pasir
akan hilang akibat penambangan. Gumuk pasir itu terbentuk secara alami akibat
pasir yang terbawa tiupan angin. Warga percaya gumuk pasir bisa menahan
gelombang jika terjadi tsunami. “(Beberapa tahun lalu) waktu tsunami di pangandaran itu,
gelombang air laut di sini kan juga naik. Tapi itu tidak terlalu membahayakan
karena masih ada gumuk-gumuk pasir. Di sana (Pangandaran) katanya sudah merata gitu…”
Pak Kr mengaku
mengalami kecemasan selama enam tahun ini, sejak rencana penambangan pasir besi
santer berdengung. Sering ia merasa sakit perut ketika pikirannya merasa tidak
tenang. “Itu yang sering saya alami. Kalau pikiran tidak tenang, akhirnya perut
yang terasa”.
Kecemasan yang dialami Pak Kr bukan hanya
karena cemas kehilangan tanah akibat penambangan. Sebagai pengurus PPLP, ia
sering merasa cemas ketika “tensi” masyarakat meninggi. “Saya sempat nggak bisa tidur… Saya berusaha supaya
masyarakat tensinya tidak terlalu tinggi, supaya kecurigaan masyarakat juga
tidak terlalu tinggi pada orang luar. Pada mobil berplat merah terutama. “
“Dulu pernah ada
orang-orang bermobil yang memotret-motret di lahan. Akhirnya mobil itu dirusak
oleh massa. Saya merasa cemas juga, sempat tidak bisa tidur. Karena sebagai
orang yang dituakan, tanggung jawabnya berat,” ujar Pak Kr.
Pak Kr memberi
arahan pada saya untuk bertemu Bu S, atau yang biasa disapa Bu Tj.
Bu S memang istri Pak Tj. Pak Tj adalah petani yang
dikriminalkan karena menolak penambangan. Pak Tj terkenal berani dan vokal.
Menurut buku Catatan Akhir Tahun 2010
Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta, dulu Pak Tukijo sering menerima teror
melalui pesan singkat di ponselnya.
Pada 1 Mei 2011, Pak
Tj ditahan dengan tuduhan perbuatan tidak menyenagkan. Pak Kr menilai
ada yang ganjil dari kasus Pak Tj. “Hakim memvonis tiga tahun. Padahal
tuntutan jaksa hanya dua tahun. Padahal kan kasus Pak Tj hanya perbuatan
tidak menyenangkan. Saya tidak tahu ini kok
sampai 3 tahun. Sedangkan yang berbuat anarkis di Cikeusik itu (terhadap Jemaat
Ahmadiyah) vonisnya hanya beberapa bulan. Padahal di sana sampai ada yang
meninggal, tapi vonisnya hanya 4 bulan, 6 bulan,” ujar Pak Kr.
“Kalau yang lain kan
kecemasannya ya kecemasan-kecemasan yang juga dirasakan oleh semua (kecemasan
akibat penambangan). Kecemasan keluarga Pak Tj lain. Karena (kecemasan)
mereka jelas dikaitkan dengan hukum, to.
Orang tidak bersalah kok dihukum. Itu kan jadi luar biasa.”
Tanpa terasa, kami
sudah mengobrol selama lebih dari tiga jam. Saya pun berpamitan pada Pak
Kr. Sebelum saya pulang, Pak Kr mengajak saya melihat lahannya. Jarak
dari rumah ke lahan hanya sekitar setengah kilometer. Sekarang sedang musim
tanam cabai. Lahan Pak Kr juga sedang ditanami cabai. Di sepanjang jalan,
saya menyaksikan hamparan lahan pasir yang terbentang luas. Lahan-lahan itu
tampak menghijau akibat pohon-pohon cabai yang sedang tumbuh.
Saya takjub melihat
pohon-pohon cabai yang tumbuh subur di tanah pasir. Ini pertama kalinya saya
menyaksikan cabai yang ditanam di lahan pasir.
Sebelum menanam
cabai, petani-petani di sini baru saja panen semangka. Saya masih menemukan
buah-buah semangka kering yang tergeletak begitu saja di lahan. “Sisa panen
kemarin,” kata Pak Kr.
Lahan Pak Kr berjarak
sangat dekat dari bibir pantai. “Cuma sekitar seratus meter dari pantai,” ujar
Pak Kr. Dari lahan Pak Kr, birunya lautan dapat terlihat dengan jelas.
Pemandangan yang luar biasa!
***
Rabu, 4 April 2012.
F kembali menemani saya ke Kulon Progo. Siang itu kami menuju ke rumah Bu
Tj. Rumahnya berjarak dua kilometer dari rumah Pak Kr.
Kami sempat
kebingungan menemukan rumah Bu Tj. Setelah bertanya pada perempuan yang
menggendong anak kecil, akhirnya kami sampai di rumah Bu Tj. Rumahnya
berdinding bata merah.
Saat itu di rumah
hanya ada Ks, menantu Bu Tj. Ks sedang menyuapi anaknya
yang berusia tujuh bulan. Bu Tj sedang tidak di rumah, ia masih di lahan.
Akhirnya Bu Tj
datang setelah kami menunggu cukup lama. Saya menyampaikan maksud kedatangan
saya. Namun, Bu Tj menolak diwawancarai. Bu Tj hanya berkata, “sudah
ketemu Pak Kr kan, Mbak? Ya sama. Yang saya rasakan juga sama seperti yang
dirasakan Pak Kr,” kata Bu Tj.
Saya pun mohon diri.
Saya lalu memutuskan menemui Mas Wd, petani yang juga pengurus PPLP. Di
perjalanan menuju rumah Mas Wd, F banyak bercerita pada saya. Keluarga
Pak Tj memang sulit terbuka pada orang asing. Kasus hukum yang menjerat Pak
Tj membuat keluarga itu pernah mengalami penipuan. Beberapa kali mereka
dijanjikan bahwa Pak Tukijo bisa bebas asal mereka membayar sejumlah uang.
Namun, janji-janji itu tak pernah terbukti…
Mas Wd sedang
duduk di teras rumah ketika kami datang. Kami lalu berbincang-bincang di ruang
tamu rumahnya.
Mas Wd
mengatakan, ia sering merasakan perutnya sakit, asam lambungnya naik jika PPLP
akan mengadakan event atau aksi. Event dan aksi yang diadakan PPLP selalu
dijaga ketat oleh polisi, bahkan kadang tentara. Ia cemas bentrokan bisa
terjadi. “Sering susah tidur juga kalau mau ada aksi,” kata Mas Wd
menambahkan.
“Apa yang paling
bikin cemas dari rencana penambangan ini?” tanya saya.
“Yang paling
mencemaskan ya menggusur kehidupanku. Nanti aku hidup dimana? Itu yang paling
bikin cemas,” jawab Mas Wd.
Mas Wd mersakan
beban berat sebagai pengurus PPLP. “Ya pasti beban to. Gimana nggak? Ya
namanya mengatur ribuan orang. Tiap kepala isinya nggak ada yg sama. Dan kita untuk menyamakan persepsi itu kan juga
susah.
Ini sudah masuk tahun
ketujuh. Sudah lama lho itu. Kalau
ini bukan betul-betul perjuangan akar rumput ya sudah hancur itu. Dengan
iming-iming uang yang segitu banyaknya dan kita sendiri kan betul-betul harus jeli untuk melihat sesuatu, baik di dalam
PPLP maupun di luar PPLP. Seperti bagaimana dengan situasi, apa yang harus kita
lakukan. Betul-betul harus bisa mengolah. Makanya kadang-kadang kayak yang aku katakan tadi, kalau
pikiran berat itu terus larinya ke perut.
Asam lambung naik. Jelas kurang istirahat juga. Selama (hampir) tujuh
tahun itu kerap mengalami itu setiap mau ada acara yang di situ berpotensi akan
timbul konflik. Harus memikirkan bagaimana caranya meredam konflik, kalau
misalnya terjadi konflik, nanti pasca konflik itu akan gimana.”
Mas Wd
menambahkan, tidak semua orang bisa menghadapi keadaan seperti itu.
“Betul-betul butuh keberanian untuk mengambil sebuah keputusan,” ujarnya.
Besarnya potensi
konflik yang mungkin muncul juga menjadi beban tersendiri bagi Mas Wd.
Meskipun warga yang pro tambang tidak banyak jumlahnya, timbul kerentanan
terjadi gesekan antara warga yang pro tambang dengan warga yang menolak
tambang. Mas Wd menceritakan kejadian di Desa Karangwuni. “Di Karangwuni
itu kan kemarin ada orang mati. Itu katakanlah anaknya kerja di tambang. Tetangganya nggak ada yang hadir melayat. Biarpun cuma tetangga sebelah rumah
pun nggak datang. Sampai segitunya itu lho. Lha itu yang layat
cuma orang-orang jauh. Keluarganya sendiri kalau masih tetangga pun nggak datang. Karena takut juga to. Itu kan hukum sosial. Ketika orang
itu datang melayat ke situ, ya dia (dianggap) ikut pro.“
***
Kamis itu (5 April
2012) saya menemui teman saya, ISN, yang bekerja di kantor
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. ISN menunjukkan pers rilis keluaran
LBH Yogyakarta terkait penolakan warga terhadap penyusunan AMDAL bagi
penambangan bijih besi di Kulon Progo.
Amdal atau analisis
mengenai dampak lingkungnan adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha
atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup, yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan atau kegiatan.
Sedangkan pengertian dari dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan
pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan atau kegiatan.
Lingkungan yang dimaksud di sini tidak hanya terbatas pada lingkungan fisik
maupun biologi, tetapi juga aspek sosial-ekonomi-budaya dari manusia yang
tinggal di wilayah tersebut.
“Proses penyusunan
Amdal masih berjalan. Padahal warga menolak,” kata ISN. Selain itu, rencana
penambangan ini rentan mencederai hak warga atas kepemilikan tanah. “Konflik
lahan pasti terjadi. Lahan yang mau ditambang itu kan terdiri dari tanah merah
(tanah negara), tanah Pakualaman dan tanah warga sendiri. Masih ada konflik
terkait batas-batas tanah yang tidak jelas.”
***
Saya juga menemui
AC. Ia mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM. AC teman saya yang
pernah mengumpulkan data-data pelanggaran HAM di Kulon Progo. Data itu ia kumpulkan
untuk menyusun laporan yang ditujukan pada Human
Right Watch.
Tidak seperti saya
yang ditolak saat hendak mewawancarai Bu Tj, AC berhasil
mewawancarai Bu Tj. “Tampak sekali kecemasan pada Bu Tj. Tulang
punggung keluarganya ditahan. Waktu aku bertanya soal ekonomi keluarga, bu
Tj menjawab kalau ekonomi keluarga jadi morat-marti,”
kata AC.
AC menjelaskan
tentang teori konflik dalam kaitannya dengan konflik vertikal dan horizontal di
Kulon Progo. “Teori konflik yang paling mendasar ialah membiarkan konflik itu
terjadi, dan konflik itu akan terus berkembang.” Menurut AC, konflik
horizontal lah yang justru akan makin berkembang. “Sekalipun tambang batal,
konflik horizontal itu akan tetap ada. Sebab orang-orang yang pro tambang pasti
kan mengharapkan sesuatu (dari penambangan pasir besi). Mereka pasti sakit hati
kalau tambang batal. Dan mereka jadi marah pada warga yang menolak penambangan.
Sebab tambang jadi batal gara-gara warga yang menolak,” katanya melanjutkan.
AC juga datang
ketika PPLP merayakn ulang tahun yang keenam tanggal 1 April lalu. Ia bercerita
pada saya tentang perayaan ulang tahun kemarin. “Ulang tahun PPLP yang terakhir
kemarin banyak muatan religiusnya. Malam pengajian, siang juga pengajian lagi.
Di satu sisi, pengajian itu bisa meredam kecemasan, di sisi lain itu juga bisa
memberikan optimisme bahwa perjuangan mereka akan dibantu oleh
kekuatan-kekuatan transendental (Tuhan)…”
***
Kondisi Kejiwaan
Konflik itu sudah
berjalan selama enam tahun, kini memasuki tahun ketujuh. Warga merasa cemas
akibat rencana penambangan yang bakal membuat mereka kehilangan lahan,
menimbulkan kerusakan lingkungan, dan menciptakan konflik-konflik antar sesama
warga. Ini jelas bukan permasalahan sederhana. Semua terlibat, mulai dari
negara, pemodal asing, sultan, kraton, aparat kemanan, dan warga pesisir Kulon
Progo.
Kecemasan yang
dialami Pak Kr dan Mas Wd menimbulkan gejala-gejala otonomik seperti
gangguan lambung ringan dan sulit tidur. Ketika mewawancarai Pak Kr, beliau
juga bercerita tentang pengurus PPLP bernama Pak Sd yang tinggal di Desa
Karangwuni. Pak Sd sering tidak bisa tidur sehabis rapat PPLP. “Pak Sd
sampai stress, kagol, cemas, bahkan pernah sampai menyiapkan senjata,” kata Pak
Kr.
Dalam buku Kaplan dan Cadock : Sinopsis Psikiatri,
kecemasan didefinisikan sebagai suatu sinyal yang menyadarkan; ia
memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang
mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman tersebut.
Masih menurut buku
tadi, sensasi kecemasan sering dirasakan oleh hampir semua orang. Perasaan
cemas ditandai dengan rasa ketakutan yang difus, tidak menyenangkan, dan
samar-samar, seringkali disertai oleh gejala otonomik seperti nyeri kepala,
berkeringat, palpitasi, kekakuan pada dada dan gangguan lambung ringan.
Saya sepakat dengan
AC yang mengatakan bahwa muatan religius (berupa pengajian) saat ulang
tahun PPLP kemarin bisa meredam kecemasan. Sekiranya warga Kulon Progo perlu bersama-sama
meningkatkan keterlibatan aktivitas religius untuk meredam kecemasan.
Dari
sudut pandang ilmu kedokteran jiwa, aktivitas religius mempunyai peranan besar
untuk menunjang kesehatan mental seseorang. Contohnya dalam jurnal Risk factors for suicide in Bali : a psychological
autopsy study. Dikatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara rendahnya
keterlibatan aktivitas religius sebagai faktor risiko bunuh diri di Bali.
Daftar
Pustaka
Kaplan dan Cadock. 1997. Kaplan dan Cadock :
Sinopsis Psikiatri. Binarupa Aksara, Jakarta
Kurihara
dkk. 2009. Risk factors for suicide
in Bali : a psychological autopsy study.
BMC
Public Health
2009, 9:327 doi:10.1186/1471-2458/9/327
Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta. 2010. Catatan
Akhir Tahun Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta. Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta,
Yogyakarta
Majalah Natas. Tahun terbit 2010
(Epilog : Ada yang menarik ketika saya mempresentasikan laporan ini ke dua orang dosen penguji di kampus. Salah seorang dosen penguji berkomentar, masalah penolakan ini juga berkaitan dengan harga diri para petani di sana. Harga diri para petani ikut tercederai karena rencana penambangan pasir besi. Keberhasilan mereka menciptakan teknik bercocok tanam yang membuat lahan kritis bisa ditanami akan diobrak-abrik akibat tambang besi. Kurang lebih dosen saya bilang, "penolakan tambang itu juga soal harga diri. Usaha keras mengubah lahan kritis jadi bisa ditanami akan hancur kalau penambangan jadi dilakukan. Itu kan semacam melukai harga diri petani.")
Senin, 02 April 2012
Dua Kekalahan

Mendadak sebuah kenangan menempeleng kepalaku. Aku yang sedang mengemasi majalah-majalah lama ke dalam kardus tak siap dengan serangan itu. Dari sebuah majalah kampus lawas yang kupegang, si kenangan meloncat keluar lalu menghantami kepalaku tanpa ampun. Aku jatuh terduduk, tapi si kenangan tetap tak memberi ampun.
Lalu tiba-tiba ia menghentikan serangannya. Aku terengah, mencoba mengumpulkan kesadaranku. Naas, belum selesai upayaku mengumpulkan kesadaran, serangan selanjutnya keburu datang. Kali ini ia tidak memukul, ia masuk ke dalam kepalaku lewat lubang telingaku.
Di dalam kepala, ia menggiring otakku pada ingatan enam tahun silam. Tanpa bisa mengelak, ingatanku menerawang pada peristiwa itu. Kandas sudah rencanaku mengemasi buku dan majalah yang akan kubawa pindah ke ibu kota.
***
Hari itu tak akan pernah lenyap dari ingatanku, Kamis, 26 September 2004. Aku ingat persis bagaimana garis-garis wajah bapak Suriyanto mengeras. Senyum yang biasanya ramah telah lenyap. Jari telunjuk tangan kananku terus mengetuk-ngetuk paha, aku tak bisa menyembunyikan kecemasanku. Kursi kayu yang kududuki terasa sangat tidak nyaman. Walaupun ruangan dosen ini ber-AC, aku merasakan setets keingat dingin yang mengalir turun dari tengkukku.
“Kamu pintar, Andi. Nilai tugas dan kuismu selalu bagus. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya tidak masuk kelas. Kamu tidak masuk tujuh pertemuan dan sekarang kamu minta saya mengizinkan kamu ikut ujian akhir semester. Mengapa kamu sering tidak masuk kelas?”
Aku memberanikan diri menatap matanya yang terbingkai kaca mata bulat. “Semester ini saya mengerjakan majalah kampus, Pak. Saya pemimpin redaksinya. Karena berpacu dengan deadline dan lima orang staf redaksinya mangkir, saya terpaksa membolos beberapa kali unruk menyelesaikan liputan majalah. Maaf, Pak,” dua kata yang terakhir itu kuucapkan dengan sangat lirih. Ia tersenyum dengan hanya menarik sebelah bibirnya, meremehkan argumenku.
“Dulu saya juga aktivis ketika mahasiswa. Tapi saya tidak pernah sampai melobi dosen untuk diizinkan ikut ujian,” ujarnya. Aku hanya bisa diam mendengar kata-kata dosen Matematika Ekonomi itu. Tentu saja dulu Bapak tidak pernah melobi dosen. Dulu mana ada peraturan sialan yang mengharuskan kehadiran minimal tujuh puluh persen!
Sesaat tercipta keheningan yang tidak nyaman. Aku tak tahu harus berkata apa untuk memecah keheningan itu. Bapak Suriyanto menghela nafas panjang. “Kamu bawa majalahnya? Coba saya lihat, apa benar kamu sibuk mengerjakan majalah kampus.” Aku meraih tas ranselku yang kutaruh di lantai. Kukeluarkan sebuah majalah yang masih mulus dari tas ransel using, tas yang sudah kupakai sejak masih di sekolah menengah atas.
Aku mengulurkan majalah berkulit muka warna merah itu kepada Bapak Suriyanto. Ia menermianya dengan agak kasar. Dahinya sedikit mengerenyit ketika melihat kulit mukanya. Ia mulai membaca, sesekali membalik halaman. Kacamatanya sedikit melorot di batang hidung. Sekali lagi tercipta keheningan.
Hening itu memberi ruang bagi pikiranku untuk melayang kemana-mana. Pikiranku terbang menembus dinding-dinding ruang dosen, melayang ke ingatan sebulan lalu. Ingatan tentang proyek pembangunan mal di sebuah jalan utama. Jalan yang dinamai dengan nama seorang pahlawan.
Aku dan Wisnu, fotografer majalah kampus, meliput pembangunan Ambar Plaza, sebuah mal yang katanya akan jadi mal terbesar di Yogyakarta. Memang pembangunan tersebut sedang ramai jadi buah bibir masyarakat Yogyakarta. Terutama ketika tersiar kabar bahwa pembangunan itu akan menggerus sebagian tembok Gedhong Kanan. Gedhong Kanan ialah paviliun sebelah kanan dari situs bangunan bersejarah kraton Pesanggrahan Ambar.
Rupanya kabar itu benar. Sehari setelah beredar kabar tentang penggerusan tembok Gedhong Kanan, pukul enam pagi aku dan Wisnu langsung menuju lokasi pembangunan Ambar Plaza. Seng-seng putih tebal setinggi dua meter tersusun rapi untuk menutupi pemandangan di dalam proyek pembangunan mal. Kami masuk lewat gerbang kecil yang tidak dijaga satpam.
Begitu masuk ke dalam lokasi proyek, kami terkejut! Ternyata sebagian tembok Gedhong Kanan telah benar-benar digerus. Alat berat yang digunakan untuk merobohkan tembok masih diparkir di dekat reruntuhannya.
Aku setengah tak percaya. Kuasa kapital telah menghancurkan nilai sejarah. Dewa Kapital lebih berkuasa daripada Kerajaan Yogyakarta. Dengan iming-iming pendapatan asli daerah yang besar, mereka yang memerintah Yogyakarta telah bertekuk lutut pada Dewa Kapital. Mereka melalaikan apa yang telah dimiliki, yang seharusnya dijaga bersama.
Oh, Dewa Kapital. Tahukah kau, Dewa Kapital? Gedhong Kanan itu bangunan dengan nilai sejarah yang tak terhingga. Tempat ini menjadi peristirahatan terakhir Raja Ketujuh dan pernah menjadi tempat tetirah bagi para utusan dari Kasunanan!
Suara shutter kamera SLR milik Wisnu menyadarkanku dari lamunan tentang Dewa Kapital. Wisnu terus memotret. Aku mengedarkan pandangan, belum ada siapa-siapa di lokasi proyek. Aku dan Wisnu berjalan mendekati reruntuhan tembok Gedhong Kanan. Wisnu berjalan lebih cepat di depanku. Ia ingin mengambil gambar reruntuhan itu dari dekat.
“Hei! Jangan memotret!” Tiba-tiba sebuah suara kasar dan berat menghardik kami. Seorang satpam berlari ke arah kami. Kulitnya hitam, tubuhnya tinggi besar. Wisnu tetap memotret, mengacuhkan teriakan itu.
“Jangan memotret!” teriaknya sekali lagi. Wisnu tetap mengabaikan perintah itu. Jika Wisnu sudah berkeyakinan bahwa suatu peristiwa layak diberitakan, ia tak mau dihentikan. Keyakinan bahwa kebenaran harus disiarkan menjadi harga mati bagi Wisnu.
Satpam itu semakin mendekat. Wisnu berbalik dan memotret satpam itu. Setiap ia melarang Wisnu memotret, Wisnu malah memotretnya berkali-kali. Satpam itu naik pitam. Ia berusaha merampas kamera Wisnu. Wisnu mengamankan kameranya dengan tangkas.
“Saya wartawan, Pak,” kata Wisnu sambil menunjukkan kartu pers yang dikalungkan di leher.
“Saya bilang jangan memotret!”
“Kenapa tidak boleh memotret?”
“Saya bilang jangan memotret! Sini! Berikan filmnya!”
“Nggak!” Wisnu balas berteriak.
Sekali lagi satpam berusaha merampas kamera. Wisnu mulai kualahan mengamankan kamera. Tubuh kurusnya nyaris terjatuh ketika berusaha menjauhkan kamera dari jangkauan satpam. Aku berlari ke arah Wisnu. Aku menarik tangan si satpam, mencegahnya mengambil kamera. Dengan gerakan cepat, satpam mendorongku. Tubuhku yang sama kurusnya dengan Wisnu langsung terjembab di tanah. Lututku membentur batu. Nyeri hebat langsung menikam.
Aku meludahkan butiran-butiran tanah yang masuk ke mulut. Cepat-cepat bangkit berdiri untuk membantu Wisnu. Tak kuhiraukan nyeri di lutut. Aku mencengkram kerah belakang baju si satpam, menariknya menjauhi Wisnu.
Di tengah pergumulan, sebuah suara mengejutkan kami, “ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?” Kami berhenti berebut, menoleh ke sumber suara. Seorang laki-laki separuh baya berkulit putih mendekati kami. Wajahnya tampak marah. Ia mengenakan celana kain warna hitam dan kemeja biru muda. Dasi coklat melengkapi penamiplannya yang rapi. Kelihatannya ia orang yang punya kuasa di proyek.
“Ada apa ini?” tanyanya pada satpam.
“Anu…mereka memotret di proyek ini tanpa izin, Pak”
“Di proyek ini tidak ada peringatan dilarang memotret, Pak” Wisnu menyela.
Lelaki berkulit putih itu melihat ke sekeliling. Kami yang sibuk berebut kamera tidak memperhatikan kalau beberapa wartawan lain juga sudah mulai berdatangan. Sebagian dari mereka menenteng kamera. Kedatangan wartawan-wartawan lain membuat si lelaki berkulit putih tampak gusar. “Lelaki itu pasti tidak mau keributan kami diketahui wartawan lain,” kataku dalam hati. Benar saja. Ia minta maaf atas kelakuan si satpam. Ia juga meminta kami segera meninggalkan lokasi proyek.
Kami langsung meninggalkan lokasi proyek. Aku berjalan tertatih. Nyeri masih merambati kakiku. Wisnu jalan di sampingku sambil memasukkan kamera ke dalam tas. Aku melirik arlojiku. Sekarang jam 07.30. Tidak mungkin aku mengikuti kelas bapak Suriyanto, aku sudah terlambat tiga puluh menit. Sekali lagi aku terpaksa membolos. Aku tak ingat ini kali keberapa aku membolos kelasnya. Sialan! Lima orang staf redaksi yang mangkir membuatku terpaksa mengerjakan jatah liputan mereka. Semoga aku masih bisa ikut ujian.
***
Sekarang pikiranku terbang ke kampung halamanku di Notog, Banyumas. Sumpah! aku tak akan memohon pada dosen jika tidak ingat keluargaku di kampung. Bapak ibuku yang petani sudah mulai renta. Tangan mereka yang keriput kucium setiap kali aku pamit kembali ke Yogyakarta.
Sekira enam bulan lalu ketika aku pulang kampung, kuperhatikan benar bagaimana dinding anyaman bambu rumahku mulai lapuk. Beberapa kayu penyangga rumah keropos di sana-sini.
Pada suatu malam, di teras rumah aku dan bapak duduk-duduk di kursi bambu. Kami mengobrol sambil menyantap sepiring pisang rebus buatan ibu. Tak ketinggalan, dua gelas kopi ikut menemani kami. Sayup-sayup terdengar suara jangkrik dari sawah-sawah dekat rumah. Angin malam berhembus sesekali, mengantarkan hawa dingin.
Bapak membuka obrolan dengan bercerita tentang harga pupuk yang terus naik. “Regane larang lan angel digolet,” kata bapak dengan logat Banyumasnya yang kental. Bapak terus berkisah tentang pupuk yang mahal dan sulit di cari itu. Ia membandingkannya dengan dua puluh tahun yang lalu. Sekarang kehidupan petani semakin sulit. Pada musim tanam, sebagian petani terpaksa berhutang untuk membeli bibit dan pupuk karena harganya tak lagi murah. Hutang itu baru bisa dibayar ketika panen. Namun jika panen gagal, petani dipastikan merugi. Bapak sendiri sudah hutang dua juta rupiah pada pak lurah. Ia juga bercerita tentang teman-temannya yang akhirnya menjual sawah mereka untuk melunasi hutang.
Aku menyalakan rokok. Giliran aku yang bercerita pada bapak tentang beasiswa prestasi yang kudapatkan. Bapak tak perlu mengkhawatirkan biaya kuliahku semester ini. Bapak tersenyum penuh arti. Matanya menyiratkan kebanggaan. Ia menepuk bahuku sambil mendoakanku supaya jadi anak yang berhasil. “Ya muga-muga dadi bocah sing mulya,” katanya.
Bapak mengambil rokok kretek yang ia selipkan di telinga. Rambutnya yang sudah memutih membuatku tak sadar kalau ia menyelipkan rokok di telinga. Ia pinjam korekku untuk menyalakan rokok. Bapak tidak berkata apa-apa lagi. Kepalanya sedikit mendongak, matanya menerawang memandang langit yang berbintang. Seulas senyum belum lenyap dari bibirnya. Setelah rokoknya habis, bapak membetulkan lilitan sarung yang dikenakan. Tangan kirinya menarik lengan kaus lusuh yang agak melorot ketika ia membetulkan sarung. Bapak menepuk bahuku sekali lagi, ia lalu masuk ke rumah.
Aku masih tak bergeming dari teras, menyandarkan tubuhku di punggung kursi bambu. Dua juta rupiah… jumlah yang sangat besar bagi keluargaku. Padahal baru tiga minggu lalu bapak berhasil melunasi hutangnya pada pak lurah, jumlahnya tiga juta rupiah. Uang pinjaman itu ia gunakan untuk membayar biaya masuk kuliahku setahun yang lalu.
Aku menatap kursi yang tadi diduduki bapak. Senyum penuh arti bapak terpatri di kepalaku. Bapakku, laki-laki kampung yang punya kemauan keras untuk menyekolahkan anak semata wayangnya sampai perguruan tinggi. Bapak ingin aku punya kesempatan yang lebih baik daripada membantunya di sawah, daripada menjadi petani.
Malam itu aku berjanji. Walaupun aku sibuk jadi pemimpin redaksi, aku akan berusaha mempertahankan beasiswa yang kudapat. Aku tak ingin memberatkanmu, Pak...
***
“Baiklah, Andi.” Kata-kata Bapak Suriyanto langsung membawa pikiranku kembali ke ruang dosen. Pengembaraannya ke lokasi proyek dan Notog telah selesai. Bapak Suriyanto meletakkan majalah di meja. Sekarang ia menatapku tajam.
“Saya tahu kamu dapat beasiswa. Kalau tidak ikut ujian mata kuliah saya, kamu khawatir IPmu jatuh dan beasiswamu dicabut?” Aku mengangguk. “Aku akan menyulitkan bapak jika beasiswaku sampai dicabut,” kataku dalam hati.
Bapak Suriyanto melanjutkan. “Padahal kamu butuh beasiswa. Lalu kenapa kamu aktif di pers kampus? Kesibukannya malah membuatmu tidak bisa ikut kelas saya.”
Aku diam sejenak, bingung harus berkata apa. Akhirnya aku memberikan penjelasan. “Karena di kantor pers kampus saya bisa pakai komputer, Pak. Saya baru bisa mengoperasikan komputer sejak ikut pers kampus. Saya juga jadi memiliki sahabat-sahabat, mereka selalu membantu saya jika saya mengalami kesulitan. Mereka sering meminjami saya buku, bahkan uang. Satu lagi, Pak. Saya pernah mewawancarai seorang guru besar fakultas ekonomi dan sempat bertukar pikiran dengan beliau setelah wawancara selesai. Saya cuma orang dusun, Pak. Kalau bukan karena ikut pers kampus, saya tak mungkin memiliki peluang-peluang itu,” kataku.
Bapak Suriyanto bersandar pada punggung kursi. Ia melepas kaca matanya, meletakkan di meja. Ia menggosok-gosokkan tangan ke wajahnya. “Ya sudah. Besok pagi saya akan bilang ke pengajaran supaya kamu diperbolehkan ikut ujian.” Aku mengucapkan terima kasih. Sekeitka itu juga rasa lega memenuhi hatiku. Karena tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, aku mohon diri.
Aku sudah bersiap membuka pintu ruang dosen ketika bapak Suriyanto bertanya lagi padaku.
“Saya mau tanya satu hal lagi sama kamu. Menurutmu, apa tindakanmu melobi saya ini adalah hal yang benar?”
“Salah, Pak. Saya telah melanggar peraturan. Peraturan tetap saja peraturan, walaupun saya membenci aturan itu. Jujur, jika keuangan keluarga saya sedang baik, saya lebih pilih mengulang mata kuliah Bapak tahun depan,” ujarku lirih.
“Kamu tahu, Andi? Saya yakin orang-orang yang kamu beritakan di majalahmu itu awalnya seperti kamu.”
“Maksud, Bapak?” tanyaku bingung.
“Mereka tidak kuasa melawan apa yang mereka anggap salah. Saya yakin, jauh di lubuk hati mereka, mereka pun menganggap merobohkan tembok Gedhong Kanan bukanlah tindakan yang benar. Tapi mereka tak berdaya melawan apa yang mereka anggap salah. Sama seperti kamu, Andi. Kamu mengamini kalau tindakanmu salah. Tapi karena takut uang beasiswa dicabut, kamu tetap melakukan tindakan yang kamu anggap salah… jangan sampai kelak kamu juga jadi seperti mereka. Hati-hati dengan sikapmu sendiri, Andi...”
Tanganku gemetar ketika membuka pintu ruang dosen. Kata-kata bapak Suriyanto bagaikan pisau yang menusuk dadaku, menghunjam tepat di jantung...
***
Kenangan itu sudah keluar dari kepalaku. Tetapi ia tidak pergi, sekarang ia duduk di sudut kamar kosku yang berantakan. Aku membenamkan wajahku ke kedua telapak tangan. Badanku gemetar. Enam tahun sudah berlalu, tapi kenangan itu masih mampu membuat perasaanku tercabik. Bagiku kenangan itu adalah dua kekalahan dalam waktu yang bersamaan. Warisan sejarah yang ditumbangkan Dewa Kapital dan ketidakberdayaanku dalam melawan sikap salah itu.
Aku meraih bungkus rokok yang tergeletak di lantai. Merokok biasanya bisa membuatku lebih tenang. Kuhisap rokokku dalam-dalam, berharap efek nikotinnya mampu menyingkirkan kata-kata bapak Suriyanto yang sekarang terus bergaung di telingaku. “…Tapi karena takut uang beasiswa dicabut, kamu tetap melakukan tindakan yang kamu anggap salah… jangan sampai kelak kamu juga jadi seperti mereka. Hati-hati dengan sikapmu sendiri, Andi...”
Kuhisap rokokku lebih dalam. Aku mengalihkan pikiranku dengan membayangkan pekerjaan baruku di ibu kota. Aku diterima sebagai salah satu peneliti di sebuah lembaga ilmu pengetahuan. Pekerjaan itu jauh lebih menarik minatku daripada pekerjaanku sekarang, outsourcing di bank swasta. Lagipula aku sudah bosan tinggal di Yogyakarta.
Aku melirik ke sudut kamar. Sialan! Si kenangan masih duduk di sana. Ada yang bilang kenangan itu seperti tato, tidak pernah benar-benar hilang…
Ada juga yang bilang kenangan itu seperti perantau, mereka selalu kembali pulang…
Catatan : Di Yogyakarta, Rabu, 25 Agustus 2004, pembangunan mal Plaza Ambarrukmo telah menggerus sebagian tembok Gedhong Tengen, sebuah pavilion sebelah kanan dari situs bangunan bersejarah kraton Pesanggrahan Ambarrukmo. Dalam sejarahnya, tempat itu jadi peristirahatan terakhir Sultan Hamengku Buwono VII dan tempat tetirah bagi para utusan dari Kasunanan Surakarta.
* Ini versi yang berbeda dari yang dimuat di Majalah Horison edisi Januari 2012. Ini versi sebelum diedit oleh editor Horison. Versi yang telah diedit oleh editor majalah Horison bisa dilihat di sini.
Langganan:
Postingan (Atom)






